Kuhitung kerut yang mengalir di mukanya
Bergaris-garis dalam usia jutaan malam
Berbelok lambangkan duka
Yang pernah hinggap
Sampai petang datang menjelang
Tercerabut dari rambutnya memutih
Dilapis kerudung tipis
Yang berjuntai menghampir tanah
Terseret senja sebuah peradaban
Tertatap matanya memudar
Menerawang hembuskan nafas tersengal
Pelan tanpa suara
Diterpa angin yang jadi sahabat
Dilewati samudera membentang
Untuk harapan yang telah lewat
Dari masa muda yang sia-sia
2002
Wednesday, February 18, 2009
Monday, February 16, 2009
Naz...
dalam maya kita bicara
tersekat ribuan tahun cahaya
terdiam di dunia semu
hadirkan sosok
sarat berjuta misteri
tentang cinta,
tentang sahabat
tentang sebuah mimpi
dan tentang realita
dalam keheningan kita menatap
berdinding rasa tanpa nuansa
terpejam di alam sensai
bayangan insan yang tak berujud
biarlah biduk menyeberang
dengan kayuhan
arungi jutaan mil kesungguhan
tanpa dermaga dan tak bersauh
biarlah
semua apa adanya
hingga raga
berhenti mencari
tersekat ribuan tahun cahaya
terdiam di dunia semu
hadirkan sosok
sarat berjuta misteri
tentang cinta,
tentang sahabat
tentang sebuah mimpi
dan tentang realita
dalam keheningan kita menatap
berdinding rasa tanpa nuansa
terpejam di alam sensai
bayangan insan yang tak berujud
biarlah biduk menyeberang
dengan kayuhan
arungi jutaan mil kesungguhan
tanpa dermaga dan tak bersauh
biarlah
semua apa adanya
hingga raga
berhenti mencari
Sunday, February 15, 2009
Ujung
kini penantian ini
berujung sudah
tepian sebilah pencarian
dalam jarak yang tak berukur
pada sebuah titik
kita semua pernah bersua
pada sebuah titik
kita jua mesti terpisah
untaian yang menjulur
tergandeng dalam pelangi asa
rekatkan pintu-pintu
oleh sesobek kesetiaan
dan sebuah canda tawa
juga tangis dan kecewa
berpadu dalam riak-riak
kehidupan yang sempit
dan kini penantian itu berujung sudah
tepian sebilah pencarian
dalam jarak tak berukur
tak ada yang abadi
tak ada yang kekal
yang tersisa
hanya mewangi
berujung sudah
tepian sebilah pencarian
dalam jarak yang tak berukur
pada sebuah titik
kita semua pernah bersua
pada sebuah titik
kita jua mesti terpisah
untaian yang menjulur
tergandeng dalam pelangi asa
rekatkan pintu-pintu
oleh sesobek kesetiaan
dan sebuah canda tawa
juga tangis dan kecewa
berpadu dalam riak-riak
kehidupan yang sempit
dan kini penantian itu berujung sudah
tepian sebilah pencarian
dalam jarak tak berukur
tak ada yang abadi
tak ada yang kekal
yang tersisa
hanya mewangi
Saturday, February 14, 2009
Lentera
lentera itu masih ada
bertengger lemah di pojok bilik
kecil sekali menyala
apinya terbakar minyak tanah
usangnya melukiskan usianya
sumbunya tidak lagi putih
botolnya bukan lagi mengkilat
kusam jarang sekali diseka
tapi
lentera itu masih ada
menghias pojok rumah
tercampak dan terbuang
kilaunya dikalahkan neon silau
namun sahabat
siapa jamin lampu tak pernah padam
siapa yakin listrik kan abadi
ho...ho...siapa bisa garansi
lentera itu lambang hidup
cahaya kecilnya adalah penerang dalam gelap
setitik harap dalam kelam
sahabat
jangan pernah campakkan lentera itu
karena ia tak pernah usang
hanya tidur untuk sebuah mimpi yang indah
dan
kelak terbangun membawa berjuta
bekal hidup yang hakiki
Kramat Pulo Gundul, 7 Februari 2002
bertengger lemah di pojok bilik
kecil sekali menyala
apinya terbakar minyak tanah
usangnya melukiskan usianya
sumbunya tidak lagi putih
botolnya bukan lagi mengkilat
kusam jarang sekali diseka
tapi
lentera itu masih ada
menghias pojok rumah
tercampak dan terbuang
kilaunya dikalahkan neon silau
namun sahabat
siapa jamin lampu tak pernah padam
siapa yakin listrik kan abadi
ho...ho...siapa bisa garansi
lentera itu lambang hidup
cahaya kecilnya adalah penerang dalam gelap
setitik harap dalam kelam
sahabat
jangan pernah campakkan lentera itu
karena ia tak pernah usang
hanya tidur untuk sebuah mimpi yang indah
dan
kelak terbangun membawa berjuta
bekal hidup yang hakiki
Kramat Pulo Gundul, 7 Februari 2002
Subscribe to:
Posts (Atom)
